Jalan-Jalan | Nasi Kabuli dan Gunung Bromo

Bromo 6 July 2007

Iya, mengambil momen pernikahan Antok dan Tutik, kita semua bersembilan, Bali Orange Team, sejak tanggal 3 – 6 Juli berkelana dari Bali, Mojokerto, Jombang, Madiun, Magetan, Pacet, Bromo and then back to Bali. Kita semua meninggalkan kantor tetapi tetap tidak meninggalkan laptop dan GPRS Mobile Internet. Anytime, anywhere kita tetap bisa stay tune dengan pelanggan setia http://www.baliorange.net. Kerja remote sambil liburan hehehe.

Setelah pernikahan Antok dan Tutik, Bali Orange Team mampir ke Mojokerto untuk dijamu aneka hidangan makanan oleh Mbak Shinta, mulai dari rujak buah, lunch masakan nenek, dan makan bersama di warung Nasi Kabuli Bang Ji di Mojokerto, lokasinya di Depan Miji Gang 2, Jalan Mojopahit, Mojokerto (Selatannya Rel Kereta Api). Sepertinya sih, Nasi Kabuli ini satu-satunya di Kota Mojokerto, langganan Mbak Shinta. Enak Mbak … Thank you.

Nasi Kabuli ini konon berasal dari Arab, makanannya orang arab. Nasinya diberi ramuan cengkeh dan bumbu jahe, kemudian diberi gulai kambing. Entah gimana bumbunya, tapi ketika dimakan berbarengan dengan sambal kecap dan kerupuk udang, serta es teh, hmmm, rasanya mak nyus, nendang euy. Oh iya, sebelum makan, kita diberikan minuman pembuka, wedang kopi jahe. Sudah hangat, ketambahan nasi kabuli yang uanget tenan. Nikmat.

Well, kambing … konon juga bisa meningkatkan libido dan perangsang timbulnya hipertensi … Hehehe, embuh ah. Yang penting nikmat.

Setelah kita makan nasi kabuli, kebetulan jalan raya sepi akibat raungan sirine palang pintu rel kereta api yang membelah Jl. Mojopahit. Kereta api akan lewat dan ini adalah pengalaman tersendiri bagi kami yang rindu akan kereta api. As you know, Bali nggak ada kereta api nya hehehe. Si Komank, yang memang dari lahir sampai besar melihat kereta hanya dari TV, kemarin bisa melihat live ‘bleger’ nya kereta api hehehe.

Oke, selanjutnya, perjalanan kita lanjutkan ke Gunung Bromo. Sebelumnya teman-teman packing dan istirahat dulu dirumah Mbak Shinta sambil menunggu jam 1 dinihari. Pas jam 1 dinihari, kita berangkat ke Gunung Bromo. Kita berdelapan waktu itu dan kebetulan Hendra yang pegang kemudi mobil APV itu dari berangkat sampai pulang menuju ke Probolinggo. Rute Gunung Bromo lewat Pasuruan dan tembus Tosari yang di tuju. Di Tosari, kita harus membayar Rp. 4500/orang untuk memasuki kawasan Wisata Gunung Bromo. Selanjutnya, kita harus menempuh 9 km lagi menuju ke puncak Pananjakan, dimana tempat matahari terbit bisa kita lihat. Rupanya Pananjakan sudah berubah drastis semenjak terakhir dikunjungi Hendra, 8 tahunan silam. Ya iyaalah .. 8 tahun bok kekeke. Disana sudah ditancapin tower-tower BTS dari para provider seluler. Klo di hitung, ada lebih dari 10 han tower disana. Sangat mengganggu pemandangan dipagi itu.

Di Pananjakan, lokasi melihat matahari terbit, sudah disediakan tempat duduk seperti di stadion bola, menghadap ke timur. Taksiran, tempat duduk itu cukup untuk menampung 150 an orang, sisanya berdiri dipinggir-pinggir tebing. Kalau kita duduk menghadap timur, kemudian cukup menoleh kekanan 90 derajat, kita sudah bisa melihat hamparan padang pasir yang terselimuti kabut, serta kelihatan Gunung Bromo, Gunung Batok dan Puncak Gunung Semeru di selatannya. Luar Biasa Indah.

Setelah melihat indahnya matahari terbit, kita melaju turun ke Gunung Bromo, melewati padang pasir yang luas. Mobil APV cukup keren diantara mobil-mobil Toyota Hardtop milik penduduk setempat yang disewa oleh para wisatawan. Mobil 4 WD tersebut rata-rata disewa dengan harga kisaran antara Rp. 150.000 – Rp. 350.000. Yang pintar-pintar saja menawar. Tapi kita cukup ber APV saja turun ke padang pasir, pelan-pelan sambil menikmati indahnya pemandangan areal Gunung Bromo.

Sesampainya di kaki Gunung Bromo, kita ingin naik sampai puncaknya. Tetapi klo dilihat, jaraknya lumayan jauh, belum lagi harus naik tangga yang disediakan di lereng gunungnya. Mak .. bisa-bisa capek duluan deh. Akhirnya, biar perjalanan lebih mengesankan, kita menyewa kuda dengan rute PP, naik dan turun. Harga sewa kuda itu Rp. 30.000/kuda, perjalanan PP, naik turun. Ya gak papa lah, itung-itung biar pernah naik kuda hehehe.

Tetapi, ternyata, kita harus jalan sendiri untuk sampai puncaknya. Kuda hanya mengantarkan sampai di bawah tangga saja. Mak, ada ratusan tangga yang harus didaki. Its oke lah, pelan-pelan bisa naik, dan bisa menikmati pemandangan kawah Gunung Bromo. Kita berpotret ria sepuasnya disana. Kadang, terlintas dalam pikiran juga, jangan-jangan Gunung ini akan meletus lagi .. hiiiiiii, serem juga. Tapi Alhamdulillah, Alloh belum mengijinkan utk meletuskan Gunung Bromo hehehe.

About Viar MS

travel | green enthusiast | countryside | web design | beer | coffee