Pesta Tahun Baru di Subaya

Party

Sejak beberapa waktu lalu rencana perayaan akhir tahun di Subaya ter-publish di sini. Mulai dari obrolan biasa, bom sms sampai terbentuknya ‘rakornas’ di kediaman ‘komandan’ Sidharta mematangkan acara ini. Barry, Ojiek dan aku merupakan terdakwa yang ditunjuk untuk mempersiapkan lokasi. Berangkat lebih awal di siang terakhir di 2007 itu, perjalanan kami (baca=3 relawan baik hati) ini nyaris tanpa ada satu masalah ditemui di sepanjang Denpasar – Subaya. Hanya saja disetiap kilometer Barry sibuk menggeser pantatnya yang kepanasan dan melulu merengek untuk berhenti istirahat. Dengan bawaan yang digendongnya memang cukup merepotkan cowok manja ini…Jimbe ditangan kanan, Gitar di tangan kiri, Ransel penuh dengan dirty laundry dipunggungnya dan di tengah jok mengganjal Kompor portable antara Aku dan Barry kemudian ekstra dua ransel di depan, wuih…we’re so cool dressed like that! Senin itu memang masih terbilang hari efektif untuk rutinitas kerja sehingga hampir semua outbouners berhalangan membantu kami bertiga menyisir ‘jalur tahun baru 2008’.

Perjalanan siang hari dengan cuaca cerah mendadak tertutup kabut dan tersiram butiran halus air hujan yang tertiup angin ketika raungan motor kami berusaha keras menaiki tanjakan di kawasan Kintamani. Memasuki desa Subaya yang sudah terselimuti gelap senja praktis mengantar kita ke malam sesampainya di rumah mas Ipung (baca=basecamp). Merupakan rumus permanen begitu memasuki areal parkir di belakang rumah pak Mangku Mosel sambutan hangat mas Ipung mencairkan segala suasana, mengobati penat perjalanan, meredakan phobia akan curamnya jurang yang mengintai disekeliling berliku dan naik turunnya akses ke basecamp. Tulus senyum itu menggaris panjang selaksa hijau hamparan bukit yang membentang sejauh mata memandang. Dengan kopi yang hanya 5 menit bertahan panas kita berempat bercengkerama dan mencoba menghangatkan situasi dengan memainkan alat musik yang kami bawa disusul dengan arak khas desa Subaya menyambung obrolan sambil menunggu outbouners lain datang.

Beberapa jam menunggu membuat ‘3 relawan baik hati’ berinisiatif menciptakan lagu sekedar untuk membunuh bosan. “Jadi Batu” begitu kami sebut jingle ekspress yang kami sempat tulis untuk menyambut datangnya outbouners. Setelah berhasil menjadi ‘batu’ satu persatu outbouners pun datang. Anjing-anjing itu, mereka selalu menggonggong memecah sepi setiap kali ada yang datang. Berbasah-basahan mereka datang dengan tawa menyambut. Kedatangan Onon dan Lidya menambah suasana lebih hangat yang kemudian disusul komandan Sidharta beserta rombongannya Mr. and Mrs Balin, Didi, Natalie dan Dnay. Masih terdapat beberapa outbouners yang melaju dibelakang perjalanan. Berbonceng ria yaitu Rico dan Ia, Noviar dan Uci, Andhika dan Wiwid, Pacul dan Kiki kemudian Arifin yang kemudian tiba setelah direpotkan dengan motornya Rico yang mogok di tengah lebatnya hujan dan dinginnya udara yang menusuk.

Semakin meriah merapati durasi akhir 2007 party-pun dimulai. Setelah semua mempersiapkan diri…ganti baju hangat kemudian berkumpul mengambil posisi di ruang tamu yang penuh berdesakan sambil bernyanyi bersama. Sebagian memukuli penggorengan di dapur sok sibuk mempersiapkan makan malam, makan malam terakhir di 2007. “Dhuarrr!!!” Bunyi petasan kembang api di depan rumah mengundang seisi basecamp berlarian ke beranda. Tanpa disadari memang 10 menit sudah berlalu dari jam 00.00 2008 yang kemudian memaksa Viar, Rico dan Pacul menggelar surprise kembang api yang dibawanya dari Denpasar. Sungguhpun di tengah derasnya hujan yang mengguyur, kembang api masih bisa menari-nari dengan indahnya di atas bukit dan sesekali meledak di tempat…damn, its freakin’ my ass off! Satu roket gagal meluncur karena terlalu kuat tertanam di tanah yang kemudian membuyarkan semua kerumunan di teras. Seru memang meski tak satupun moment yang berhasil di abadikan karena hujan mengancam kamera. Setelah kembang api habis ditangan kita masih punya segudang lagu untuk dinyayikan, segudang tawa untuk dilepas, semeja penuh makanan yang akan siap untuk disantap dan satu lagi kita masih punya berbotol-botol ‘air cerdas’ untuk dihabiskan malam itu juga. Kru yang berhalangan datang cukup membaca saja sambil ngebayangin. Boleh juga dengan menggigit jari, lebih afdol kekekeke…

SHOW TIME.
Acara tidak berhenti sampai disitu. Jingle ‘Jadi Batu’ yang kami rencana mainkan untuk menyambut kedatangan outbouners akhirnya kami nyanyikan juga. Setelah semua kembali berdesakan di ruang tamu kini saatnya ‘3 relawan baik hati’ unjuk gigi. Barry pada perkusi, Ojiek pada Tambourine alias ‘kecrek-kecrek’ kemudian aku kebagian memegang gitar. Ada satu hal yang menggelitik waktu itu, ketika pada hitungan tu, wa, ga, pat…Barry lupa bagaimana intronya kontan semua outbouners yang semula siap menyaksikan jadi terkakah-kakah…huwawawahahaha, what an embarassing!!! Tidak sekompak waktu latihan memang. Lagu dengan durasi kurang dari 2 menit itu akhirnya berhasil kami selesaikan dengan riuhnya tepuk tangan seisi ruang tamu. Padahal itu kan ungkapan kekesalan kami karena lama menunggu, kok malah di kasih applause??? Thanks anyway, guys.

The party has just begun. Suasana konyol ‘3 relawan baik hati’ yang kemudian berlanjut dengan hingar bingar paduan suara malam itu spontan terhenti, teriakan-teriakan gak jelas terlontar menyambut beberapa orang yang datang memasuki ruang tamu lengkap dengan kostum hujannya. Ternyata masih ada beberapa anggota BOC yang tertinggal dibelakang dan baru sampai setelah beberapa menit kita merayakan pergantian tahun. Mereka adalah Andri, Maria, Aziz, Lala, Barok dan Hadi dengan Ukulelenya. Lengkap sudah 25 orang berdesakan mengisi basecamp malam itu. Suasana semakin panas ditengah cuaca basah dan dingin. Gemericik hujan diluar terkalahkan oleh berisiknya suara gitar, gaduhnya perkusi, bisingnya tambourine, paduan suara yang gak kompak dan suara Ukulele. Beberapa saat kemudian, kring…ikring…ikring…”Makan…makan…makan” teriak Didi sambil membunyikan bel sepeda gayung yang tergantung di pintu tengah memaksa semua kegilaan untuk sejenak berhenti. Semuanya bergegas menuju meja makan dimana semua hidangan siap disantap dengan kepulan aromanya yang menggoda. Makan malam yang tadinya direncanakan untuk dinikmati di penghujung tahun berubah menjadi makan malam pertama di 2008, atau lebih kerennya The First Supper in 2008, cieeee. Ini adalah hasil karya Lidya, Onon, Pacul, Kiki dan tak ketinggalan Chef kebanggan kita ‘komandan’ Sidharta yang sedari tadi berkutat di dapur. Makan malam bersama yang seru, 25 orang yang ada menempati sudut-sudut basecamp dengan se-Ingke menu makan malam dipegangnya. Ruang tengah dan ruang tamu penuh dengan manusia-manusia lapar yang siap nambah kalau masih ada yang tersisa…hehehe.

Terasa nyaman ketika perut sudah terisi dan acarapun siap digenjot lagi. Kali ini dengan anggota komplit membuat suasana lebih meriah, bising dan gaduh sempurna. Jam-jam pertama di 2008 mengantar 25 orang mengawali tahun dengan bernyayi bersama, bergembira bersama. Sederhana memang perayaan ini namun kebersamaan yang dirasakan tidak terukur nilainya. Orang-orang terdekat semua berkumpul, berbagi kebahagiaan, berbagi tawa dan berbagi kegilaan yang kadang kala hanya muncul setahun sekali. Susah rasanya menggambarkan betapa serunya acara pergantian tahun di Subaya. Tawa itu, senyum itu dan ekspresi-ekspresi gembira lainnya yang tidak setiap hari bisa didapati tumpah pating bleber di ruang tamu basecamp BOC.

Berselang sekian saat mata2 sayu mulai terlihat. Kamar-kamar kosong mulai terisi. Bukan main memang perjalanan mereka, beruntung aku yang lebih awal sampai di basecamp lolos dari lebatnya hujan. Setelah beberapa orang memilih untuk istirahat, masih tersisa beberapa anggota yang asyik main Domino dan sesekali terdengar renyah tawa mereka. Dengan suara gitar mengalun sedikit pelan dan mendayu…malam berada ditengah perjalanannya menuju pagi. Semuanya pun terkapar kecapaian tapi tidak buat Dnay, Ojiek, Didi dan Pacul. Merekalah yang paling awet bertahan dan tetap asyik main Domino dengan hukuman jongkok, lepas baju dan memakai helm bagi yang kalah. Ngakak terus melihatnya…

Selamat pagi 2008.
Terbangun di 2008 kemudian merenung, bayangan masa depan menghantui dan seribu pertanyaan mengiang tiada henti. Semua itu buyar dengan segelas kopi dan hamparan hijau bukit di depan basecamp yang setia memanjang melintas mata. Beberapa orang sudah memulai hari namun ada juga yang masih dibuai indahnya mimpi. Seperti biasa komandan ‘Sidharta’ sudah bermain-main dengan penggorengan menghidupkan suasana dapur. Ada yang berjejer ngantri dikamar mandi ada yang tenang ngopi sekedar menikmati pagi…macam-macam kegiatan pagi itu. Ketika aktifitas di dapur selesai dan itu artinya waktu sarapan telah tiba bersama-sama lagi kita makan.

First Breakfast in 2008

Selesai dengan sarapan semuanya berhambur disekeliling basecamp. Sidharta dan Balin bertolak ke Polres Kintamani menjemput motor yang mogok di perjalanan semalam. Uci, Ia (Etty) dan Wiwid dimanja Viar dangan jepret begini jepret begitu, jepret disini jepret disitu gak puas dengan lensa kit Viar pun mamasang lensa tele dan menggiring model-modelnya keatas bukit. Beberapa dari kita bermain-main di kebun, memetik buah alpukat kemudian foto2. Arifin, Dnay dan Barok dengan lincahnya memanjat pohon Alpukat dan mengayun batang-batangnya sekuat tenaga. Hore…teriak kegirangan Natalie ketika buah alpukat berjatuhan. Satu keranjang alpukat berhasil didownload dan siap diusung ke Denpasar. Benar-benar hari cerah yang berwarna.

Narsis Session

Avocado Time

BACK HOME
Setelah selesai merampok hasil kebun mas Ipung, kita kembali ke basecamp dan berkemas untuk kemudian pulang ke Denpasar. Lembaran baru aktifitas kerja menanti di kota. Semuanya tampak menyiapkan diri untuk perjalanan pulang. Sesekali kita sempatkan untuk foto bersama ketika berpamitan dengan mas Ipung selaku tuan rumah dan akhirnya pasukanpun habis meninggalkan Subaya dengan dua personil yang masih tertinggal. Aku dan Barry memutuskan untuk stay lebih lama yang kemudian terdampar hingga dua malam setelah hampir tiap hari hujan setia menghalangi rencana kita untuk pulang.
Back Home

Views

About subzero