Jalan-Jalan di Kota Tua Denpasar

Darimana datangnya hujan? Dari awan turun ke bumi.

Saya suka hujan. Hujan, bukan badai. Jika badai pasti berlalu, tapi hujan siapa tahu. Dan kalimat mendung tak berarti hujan, mungkin didapat karena sampai sekarang pun hujan dan cuaca baru sebatas ‘prakiraan’.

Lain cerita ketika Senin pagi saya berencana jalan-jalan santai di kawasan kota tua Denpasar. Dari seebelum berangkat, cuaca memang mendung, tapi karena kalimat ‘sakti’ tadi, saya berangkat juga. Karena berniat jalan, maka saya putuskan untuk memarkir motor di kawasan Sentral Parkir di Jl. Thamrin. Kawasan parkir ini ternyata cukup sepi, tidak seramai yang saya bayangkan. Namun penatan kendaraannya rapi, ada CCTV pula.


Sentral Parkir


Zebra Cross di Jl. Thamrin menuju Jl. Gajah Mada

Dari Sentral Parkir, kemudian jalan kaki menuju Jl. Gajahmada di seberang. Lalu lintas disini cukup ramai, kendaraan pun melaju cukup kencang, jadi hati-hati ketika menyeberang, karena penyeberangan di jalan ini tanpa dilengkapi dengan lampu lalu lintas.

Berjalan menyusuri Jl. Gajah Mada -yang konon katanya jauh sebelum jaman kemerdekaan merupakan kawasan pusat perdagangan- di cuaca mendung cukup menyenangkan, karena ga bikin capek. Hanya saja beberapa kendaraan yang parkir di trotoar cukup mengganggu, padahal sepanjang jalan ini telah terpasang rambu dilarang parkir. Di kawasan ‘kota tua’ ini berjajar toko-toko tekstil, elektronik, barang antik, dan lainnya. Disini pula letak pasar terbesar di Denpasar; Pasar Badung. Di depan pasar, saya menemukan rambu di bawah lampu lalu lintas bertuliskan ‘Menyeberang Jalan Harus Bersamaan Tekan Tombol di Bawah Ini’.


Tombol yang tidak berfungsi


Tadinya saya pikir tombol ini berfungsi mengubah warna lampu lalu lintas menjadi merah untuk menghentikan laju kendaraan, sehingga pejalan kaki bisa menyeberang. Kebetulan ada ibu-ibu yang menunggu di pinggir jalan untuk menyeberang. Saya tekan tombol tersebut berharap lampu berubah dan kendaraan berhenti. Tapi yang terjadi tidak seperti yang saya harapkan, lampu tetap kuning seperti sebelumnya, dan kendaraan tetap lalu-lalang. Tombol tersebut tidak berfungsi. Dan saya dan ibu tersebut tetap menunggu jalanan agak sepi untuk menyeberang.

Di kawasan ini pula, di dekat Pasar Badung ada sebuah toko kopi yang telah ada sejak 1935. Toko ini bernama ‘Bhineka Jaja’. Selain menjual kopi bali merek Butterfly Globe Brand atau Kupu-kupu Bola Dunia, disini juga dijual bermacam kopi dari berbagai penjuru Indonesia.


Berbagai macam kopi dari penjuru Indonesia, lukisan dari kopi, dan mesin penggiling kopi tua.


Meski toko ini kecil dan hanya punya dua meja kecil untuk menyajikan kopi di tempat, tapi toko ini cukup terkenal di kalangan lokal maupun para pejalan. Rasa kopinya yang khas membuat saya kembali ke tempat ini untuk yang kesekian kalinya. Secangkir kopi Bali yang disajikan dari mesin espresso berharga Rp. 6000.


Mesin Espresseo dan Kopi Bali

Beberapa kali datang ke toko ini ada beberapa orang yang sedang ngobrol seru meski baru bertemu. Tapi kali ini hanya saya sendiri yang menikmati kopi disini. Setelah puas nyruput kopi, saya melanjutkan jalan kaki menuju ke Lapangan Puputan. Tapi ternyata, kalimat yang saya tulis di paragraf kedua di atas tidak sakti. Mendung berarti hujan!


Hujan turun di perempatan.


Meski hujan mengguyur hanya beberapa menit, saya yang berteduh di pinggiran toko, di dekat perempatan Jl. Arjuna, kemudian memutuskan untuk menyudahi jalan-jalan kali ini. Di waktu hujan, matahari bersembunyi, mengistirahatkan diri. Dan daya tahan tubuh manusia secara alamiah akan melemah akibat kurangnya sinar matahari. Jadi, daripada sakit, mending balik pulang untuk bisa jalan-jalan lagi lain kali.

Salam olahraga! :D

About Lugu Gumilar

Designer and Illustrator who likes coffee, night, nature, and dream a lot.