Kekurangan Bekal, Minum Air Sungai di Trekking Air Terjun Subaya-Kutuh

Trekking kali ini membawa kesan tersendiri bagi teman-teman. Perjalanan memakan waktu 8 jam 30 menit, dimulai dari jalan menuruni bukit dan naik kembali ke tempat pemberangkatan awal. Kesimpulan yang kami tetapkan adalah, trekking Air terjun Subaya-Kutuh ini tidak tepat bagi kalangan pemula (beginner). Level minimum keterampilan trekking adalah untuk kalangan intermediate ke atas.

Perjalanan dimulai dari kantor Bali Orange Communications, terbagi menjadi 2 pemberangkatan. Gelombang pertama adalah Rico, Didi, Nando, Giri, Viar, Ratna, Trisna, Uci, Yuli, Ia, Natalia, Mas Sidharta dan Vivi. Disusul gelombang ke dua adalah Ivant dan Hendra. Sampai di lokasi Desa Subaya, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli pada 17 Agustus 2007 pukul 20.00 WITA, disambut oleh Mas Ipung selaku tuan rumah. Rombongan kedua tiba pukul 23.00 WITA. Kita bergumul dengan persiapan makan malam, dengan menu ayam bakar dan soup kacang polong (soup nya kek jatah makan di kapal KM Tidar euy!).

Setelah makan malam, kami berkumpul untuk membicarakan rencana keesokan harinya. Setelah itu, acara ramah-tamah digelar disana dengan duduk berputar, menyanyi lagu bersama, berjoget, ketawa riang, menikmati kopi, pisang dan markisa diantara dinginnya udara malam pegunungan Desa Subaya. Artis dadakan bernama Nando tegaldlimo cukup menghibur kami, dengan lengkingan khas lagunya Dont Sleep Away this night My Beibeeeh… cukup membuat suasana ngocol penuh keakraban. Tapi memang Nando ini bekas ‘lulusan RSJ Bangli’, sehingga kami cukup memahaminya hehehe. Acara dilanjutkan dengan tidur bersama pukul 01.30 WITA.

Pukul 05.00 WITA, kami sudah terbagun untuk mempersiapkan sarapan, menikmati kopi, matahari terbit, dan persiapan untuk pemberangkatan. Memakai baju seragam sumbangsih dari Telkomsel (melalui Rico)- Thank You Telkomsel !!. Selanjutnya pukul 08.00 kami berangkat memakai sepeda motor ke tempat pemberangkatan trekking. Disana kami sudah ditunggu oleh Bapak Kepala Desa (Perbekel) Subaya, Bapak I Ketut Suar, SS, Bapak Bendesa Adat Bapak I Nengah Mupu, pemandu trekking Bapak I Wayan Mertaada, dan beberapa penduduk Desa Subaya. Setelah berkenalan dan menyampaikan briefing oleh Bapak Perbekel, serta foto bersama, kami segera berangkat jalan kaki menuju lokasi Air Terjun Subaya-Kutuh.

Bapak I Wayan Mertaada (panggilan: Merta) segera memberi komando untuk jalan. Dengan berpakaian sarung, kaos, dan sebilah sabit, beliau cukup handal membimbing kami. Dalam waktu 30 menit, kami berhenti di pos 1 yaitu sebuah balai subak. Disana kami berpotret sebentar, dan Pak Merta memberikan beberapa bilah tongkat untuk kami. Perjalanan dilanjutkan menuruni bukit, langkah terasa ringan seakan tanpa beban, maklum jalan turun sih. Kurang lebih 1 jam berjalan, kami berhenti di tanah lapang, tempat hutan-hutan dan aliran sungai.

Perjalanan selanjutnya adalah trekking menyusuri sungai dengan variasi tantangan berupa batu-batu sungai, pesisir sungai, lompat sana, lompat sini, menerobos semak-semak liar, dengan situasi jalan yang tidak bertapak, artinya, tidak ada jalan lajur khusus buat jalan kaki. Benar-benar kami mengandalkan kemampuan Pak Merta dalam mengingat-ingat jalan di pesisir sungai itu.

Salah satu kejadian yang menarik adalah, beberapa dari kami berusaha mempertahankan sepatu agar tidak masuk kedalam air, tetapi rupanya ada yg bosan meloncat sana sini, akhirnya dia pasrah, merelakan sepatu kebanggaannya tercelup ke air. Akhirnya basah juga ya Viar ? Hehehe. Terkadang, tertipu oleh kekokohan sebuah batu kecil ditengah aliran sungai, ketika terpijak, batu itu kalah oleh beban si penginjak, akhirnya terpeleset deh … berlaku bagi ivant dan hendra hahaha.

Tapi yang berhasil mempertahankan sepatu tetap kering adalah Bli Sidartha. Kejadian menarik lainnya adalah bekal air minum yang kita bawa cukup tipis, Hendra dan Bli Sidharta mencoba dahulu meminum air sungai itu, tujuannya sebagai tester ketahanan perut bila memang nantinya kami akan kehabisan perbekalan air minum. Pada akhirnya perut mereka baik-baik saja.

Diantara rasa capek, cucuran keringat, panas menyengat, kami terus bertanya-tanya dalam hati, kapan akan bertemu dengan Air terjun itu. Beruntung situasi aliran sungai disetiap sisi perjalanan dan aksi potret-potret membuat kami terhibur. Pada akhirnya kami berbelok arah menjauhi aliran sungai dan berjalan menanjak naik ke bukit, makin besar pula tanda tanya lokasi Air terjun ini. Kok malah menjauhi aliran sungai ??

Akhirnya kami bertemu lagi dengan aliran sungai berdebit kecil dari sungai yang pertama. Balik kami menyusuri aliran sungai itu. Dan … ternyata disanalah Air Terjun itu, tinggi menjulang 2 tingkat. Kami bersorak penuh kemenangan. Pukul 11.00 WITA kami sampai di air terjun ini.

Disanalah, di Air Terjun Subaya-Kutuh kami menyandarkan sementara simbol-simbol kepenatan. Tas kita taruh di bebatuan, sepatu dicopot, keringat terbasuh oleh dinginnya air, rasa capek jadi hilang. Sebagian dari kami melepas penat dengan mandi dan naik ke tingkat pertama air terjun. Sisanya menikmati keindahan air terjun dari aliran tingkat paling bawah. Rupanya, untuk naik ke tingkat pertama, batu licin setinggi 5 meter menjadi tantangannya. Yang berhasil naik ke atas adalah Ivant, Hendra, Nando dan Pak Merta.

Air terjun yang kami lihat terdiri dari 2 tingkat. Tingkat pertama lebih panjang dari pada tingkat ke dua. Total ketinggian air terjun keseluruhan kurang lebih 40 meter. Di tingkat pertama, kami jumpai ada aliran air terjun berdebit kecil yang bersuhu panas. Jadi air terjun ini mempunyai sumber air panas. Luar biasa.

Bekal air minum yang kami bawa rupanya tidak akan cukup untuk minum selama perjalanan pulang nanti. Bahkan, saat kami tiba di lokasi air terjun, botol-botol aqua yang terbawa, mayoritas kosong. Bagaimana dengan minum sehabis makan dan perjalanan pulang nanti ? Akhirnya, botol-botol kosong itu kami isi dengan air sungai dari air terjun tingkat pertama. Air sungai itupula yang kami gunakan untuk minum sesudah makan.

Setelah makan siang, kami bercengkerama lagi, sampai waktu menunjukkan pukul 13.00 WITA. Saatnya kami berkemas dan meninggalkan air terjun untuk kembali menyusuri sungai, berburu kesan mengukir cerita hidup. Selama perjalanan pulang, kami terpecah menjadi 2 kelompok. Kelompok yang mendahului dan kelompok yang tertinggal.

Ternyata kelompok yang tertinggal ini tersesat dalam mencari jalan pulang. Bli Sidhar, Giri, Viar, Didi, Uci dan Natalia. Mereka tersadar setelah situasi jalan semakin menjauh dari sungai, dan melihat kelompok yang mendahului jalan kaki di bawah sana. Sekali lagi, dalam perjalanan tersesat ini banyak yang mempunyai kesan. Silahkan yang merasa tertinggal menceritakan kesannya dalam kolom komentar.

Kelompok yang mendahului cukup lama punya waktu istirahat, bahkan ada yang tertidur. Setelah kami bertemu kembali, kelompok yang merasa tertinggal melampiaskan rasa kesalnya dengan memakan akar dan daun pohon disekitarnya hehehe. Nggak kok. Akhirnya kami lanjut berjalan menyisir aliran sungai. Dalam perjalanan pulang ini, sepatu ivant tumbang, jebol, akhirnya dikuburkan di cepitan bebatuan sungai. Alas sepatu vivi lepas, dimodifikasi dengan mengikat sepatu menggunakan pilinan tas plastik. Ujudnya seperti sepatu anak-anak, sepatu berpita putih hehehe.

Tibalah di pos bawah, dimana tanjakan panjang sampai pos pemberangkatan menunggu kami. Setelah bekumpul, mulailah kami menanjak. Tertatih-tatih, sebentar berhenti, lanjut kembali, berhenti, minum, jalan naik lagi, sampai kulit wajah menjadi merah. Semua rasa seakan berkumpul di wajah kami. Rasa capek, pegal otot, panas, haus, kawatir akan stok air, mungkin ‘nyesal’, mungkin ‘mengumpat dalam hati’, membayangkan segarnya juice jeruk, fresh tea, aqua dingin dan lain sebagainya.

Setelah menanjak terus selama 30 menit, kami harus istirahat dibawah pohon besar yang rindang. Disanalah Pak Merta membawa kabar sudah mengisikan berbotol-botol air minum yang diambil dari pipa air minum penduduk desa. Kami bersyukur. Tetapi, perjalanan jauh masih menantang. Cukupkah air itu ?

Setiap 5-7 meter jalan kaki menanjak, mayoritas kami akan berhenti, kemudian lanjut jalan kembali. Pada akhirnya, kami tiba di salah satu rumah penduduk desa. Tuan rumahnya berbaik hati mengambilkan buah kelapa muda untuk kami. Lebih dari 7 biji yang kami habiskan untuk mengobati dahaga dan lemah tenaga. Tidak lupa juga, kami mengisi botol-botol minum yang kosong dengan air kelapa muda pemberian Bapak I Wayan Kardi. Terima kasih atas budi baiknya Pak, semoga Tuhan memberikan rejeki berlimpah kepada Bapak sekeluarga.

Perjalanan kami lanjutkan, naik dan terus menaik. Seolah-olah jalan tersebut tidak memberikan ampun bagi kami. Kami merasa terhajar oleh situasi. Hajaran itu adalah tempaan secara mental dan fisik. Kami merasakan sekali, bagaimana kondisi dan situasi tersebut berpengaruh terhadap managemen mental. Mental lah yang mengatur tenaga itu, dari mental tercipta energi untuk melanjutkan perjalanan itu. Pos selanjutnya adalah Balai Subak, dimana Bapak Merta menjanjikan air kelapa muda segar.

Tibalah kami di Balai Subak. Pak Merta memenuhi janjinya, bahkan melebihi janjinya sendiri. Beliau memberikan air kelapa muda, bengkoang besar-besar dan air madu murni. Duh baik hati sekali Pak Merta ini. Kami istirahat meluruskan otot di balai subak ini. Ada yang tiduran, berselonjor, menikmati hidangan, potret-potret, ngobrol, dll.

Di pos pemberhentian inilah Andri menelpon kami. Dengan nada ‘berkesan kesal’ karena kelamaan menunggu di rumah Mas Ipung, Andri memberikan waktu 15 menit bagi kami untuk sampai dirumah tersebut. Kami asal jawab iya saja, karena yakin tidak bakal sampai di rumah Mas Ipung dalam waktu 15 menit. Tanjakan berikutnya masih menantang. Jauh.

Sekitar 30 menit kami beristirahat, pukul 16.30 WITA kami berpamitan dengan Pak Merta. Perjalanan menanjak harus kami hadapi kembali. Keadaan badan dan mental sudah agak membaik. Energi itu yang kami pakai untuk naik. Sehingga pukul 18.00 WITA, kami sampai di pos awal pemberangkatan. Setelah sampai, kami duduk sejenak, kemudian memanasi motor masing-masing dan berangkat ke rumah Mas Ipung.

Di rumah Mas Ipung, kami membersihkan diri, mandi dan memasak untuk keperluan makan malam. Sekitar jam 19.30 WITA, semua rombongan kecuali Hendra, Didi, Natalia, Ivant, Ratna dan Bli Sidharta, kembali ke Denpasar. Karena sesuatu hal kepentingan, mereka berangkat pulang terlebih dahulu. Sisanya yang tinggal di rumah Mas Ipung mempunyai agenda untuk menghadap Kepala Desa Subaya dikeesokan harinya.

Alhamdulillah, Puji Syukur kehadirat Tuhan Semesta Alam telah memberikan kekuatan kepada kami, telah memberikan gemblengan/ujian mental dan fisik kepada kami. Dan kami yakin bahwa perjalanan trekking ini membawa sisi positif dan kebahagiaan serta manfaat yang tidak ternilai. Amin.

Bila teman-teman punya pengalaman unik pribadi (testimonial) selama perjalanan trekking Air Terjun Subaya-Kutuh, silahkan meninggalkan ceritanya dalam kolom komentar di bawah ini.
Untuk dokumentasi lengkap bergambar, silahkan lihat gallery kami.
Berita ini diposting dalam keadaan capek tapi bahagia oleh Team Bali Outbound.

Related posts:

  1. Cerita Perjalanan ke Air Terjun Tambakan/Catur
  2. Rencana Berubah | Batukaru ganti ke Catur Waterfall
  3. Eksplorasi Subaya, 17 Agustus 2007
  4. Jadwal & Agenda Acara Subaya Trip
  5. Berkunjung ke Subaya

About admin