“Ke Gunung Agung!” Seperti itu kiranya jawabanku ketika seseorang menanyakan agenda BOC kali ini. Memang kru sudah lama merencanakannya dan Sabtu lalu kita menuntaskan pendakian gunung berketinggian 3,142 meter itu dengan selamat, puji syukur Tuhan. Berikut cerita perjalanannya;
Jalur Selat atau pura Pasar Agung yang kita tempuh sebenarnya telah melalui sedikit perdebatan antar kru yang sementara berniat mengambil jalur pura Besakih. Dengan berbagai pertimbangan diputuskan untuk mengambil jalur Selat yang relatif singkat.
Gunung Agung adalah gunung dengan puncak tertinggi di pulau Bali yang disakralkan oleh masyarakat setempat dan mempunyai nilai transcendental dengan keberadaannya sebagai tempat persembahan. Terdapat beberapa hal yang diyakini oleh masyarakat setempat untuk tidak melakukan sesuatu dalam mendaki gunung ini. Perempuan yang sedang datang bulan tidak diperbolehkan mendaki gunung ini, hal ini membuat Wati salah seorang anggota BOC kecewa karena tidak bisa ikut serta. Termasuk juga perbekalan makanan yang terbuat atau mengandung daging sapi tidak diperkenankan untuk dibawa dan satu lagi yang mungkin sedikit aneh terdengar adalah sangat dianjurkan untuk mendaki dalam jumlah anggota yang genap (tanpa alasan yang jelas). Pantangan-pantangan tersebut tercatat di urutan pertama check list persiapan standar kami.
Sabtu pukul 3.54 siang 23 orang sudah melingkar di pelataran basecamp Baliorange, Narakesuma 11 untuk briefing singkat beberapa menit yang kemudian langsung tancap gas ke Karangasem. Praktis 3 jam berkendara mengantar rombongan ke jam 7 malam sesampainya di pelataran parkir pasar Agung. Ratusan anak tangga menuju wantilan cukup untuk dijadikan pemanasan sebelum mulai ke medan sebenarnya diatas sana. Cukup lama rombongan berkumpul di wantilan tepat dimuka pura pasar Agung dan sengaja untuk menunggu waktu yang tepat memulai perjalanan mengingat juga 3 orang lagi anggota BOC masih di perjalanan dari Denpasar. Pas sekali rasanya dengan berkumpul di wantilan kru BOC bisa menyambut undangan yang beberapa adalah merupakan teman lama. Kemudian, sesuatu yang menggemparkan tiba-tiba terjadi…yaitu ‘Kakak Hendra’ mendadak harus pulang balik ke Tanjung Bungkak karena lupa ngasih makan ayam…kekeke. (Hendra terpaksa membatalkan perjalanan ini karena urusan keluarga yang penting, I hope everything is just fine, dude…) Mendekati pukul 11 malam setelah beberapa menit Komandan Sidhar, Aim dan Adip menyusul perjalananpun dimulai.
Total rombongan menjadi 25 orang. Memimpin perjalanan didepan adalah Bambang (baca=bembeng). Bapake Angga yang juga lulusan Gunung Merapi dan merupakan salah satu korban kutukan Mak Lampir ditunjuk dan dipercaya untuk menyisir jalur hutan yang rimbun dan gelap sepanjang malam. Seperti rangkaian kunang-kunang kita berjalan berurutan menggandeng lampu senter masing-masing. Beberapa jam perjalanan mengantar rombongan ke peristirahatan, Telaga Mas. Tempat seluas +/- 7 meter persegi (tak beraturan) dimana terdapat kubangan air di salah satu sisinya dan batu alam yang tertata alami cocok untuk meluruskan persendian kaki dan membuat api unggun. Rombongan bisa menikmati kopi panas dan perbekalan.
Ada sedikit kisah disini…pada saat semua berkumpul melingkar di perapian dengan tenangnya ‘Komandan’ Sidhar mengguyur Bambang dengan sebotol air mineral (bukan arak) sembari teriak “Hepi bertdei….” kontan yang lain pada ikutan histeris layaknya fans Peterpan cuman ga sampe semaput. 30 menit memasuki tanggal 15 Juni itu memang tepat hari jadinya Bambang beberapa puluh tahun lalu di salah satu rumah sakit korban lelaki di Kudus.
Yang gak kalah hebohnya adalah Arip Yulianto salah seorang anggota BOC. Di setiap pemberhentian karena kakinya yang kram ataupun tempurung lututnya yang mau lepas, pemuda taat beribadah sekaligus pengagum Maria Ozawa ini tak pernah lupa memintaku untuk moto kertas A4 bertuliskan ‘Hadi’ yang selalu dikantonginya. Psikopat? Mungkin, tapi kertas dengan tulisan tangan yang jelek itu adalah titipan dari seorang teman yang semula berencana ikut serta mendaki Agung akan tetapi plat metal yang terpasang di kaki kanannya semenjak insiden tabrak kabur yang dialaminya beberapa waktu lalu memaksanya ‘ngendon’ dirumah setiap hari nonton sinetron dan infotainment, sesekali muter Soulfly hanya untuk mengusir rasa sakitnya. Itulah makna pada selembar kertas yang dibawa Arip itu.
Puncak Agung masih terhitung 2/3 lagi dari total perjalanan. Semangat masih menyala-nyala apalagi sudah ngopi dan berhangat ria di Telaga Mas perjalananpun dilanjutkan. Jalan setapak yang tadinya jalan tanah kini semakin merapat ke puncak berubah dengan jalan berbatu padat dengan kemiringan yang lebih curam. Dalam perjalanan yang semakin berat ini rombongan terlihat ‘makin kompak’ sampai-sampai kami terpecah menjadi tiga kelompok yaitu kelompok depan, tengah dan belakang dengan jarak yang tidak jauh hanya beberapa jam. Biarpun begitu kelompok paling belakang tetap bersemangat meskipun beberapa wisatawan berusia renta kerap mendahului mereka. Kelompok pertama yang terdiri dari 4 perempuan cantik dan 4 laki-laki ganteng ini sangat memberi ’semangat’ ke kelompok lain yang tertinggal dengan melangkah lebih cepat dan meninggalkan mereka lebih jauh di bawah sono. Kemudian, kami temukan seseorang tergeletak santai di sela bongkah batu raksasa beberapa menit menuju puncak yang tak lain adalah Komandan Sidhar. Dengan sangat setia dan saktinya dia ternyata telah kabur duluan ke puncak naik ayam. Termihik-mihik kami melihatnya namun mengingat sunrise (ga mengingat kelompok lain) hanya beberapa menit lagi semua sisa tenaga kami kerahkan dan kami tinggalkan Komandan Setia eh Sidhar di peraduannya.
Memang seperti banyak dikatakan para ahli ekonomi bahwa puncak gunung Agung di jalur Selat mempunyai beberapa sudut puncak dengan karateristik dan view yang berbeda. Jika capek tapi pengen di bilang udah nyampek puncak, ada puncak yang sebenarnya hanya gundukan batu agak raksasa dimana anda para pendaki palsu bisa berpose meyakinkan diatas batu tersebut dan dengan teknik pengambilan foto/angle yang tepat mampu mengelabuhi orang goblok disekitar anda. Namanya ‘puncak diskon’ terletak 30 menit sebelum puncak asli. Hanya saja di puncak diskon tidak terlihat sunrise ataupun Gunung Rinjani. Bukan apa-apa, karena berat menenteng SLR plus battery grip dan dua lensa rasanya sayang kalau tidak mengabadikan momen matahari terbit di atas Gunung Agung waktu itu.
Tepat beberapa menit sebelum matahari muncul kami kelompok pertama berhasil menaiki gundukan batu yang tak lain adalah gundukan terakhir di puncak itu. Horeeee…kami spontan berpelukan (yes! bisa meluk dia hihihi…). Menyusul kemudian kelompok kedua dan ketiga tapi sayang karena sempitnya puncak membuat kelompok BOC ketiga tetap tinggal di puncak diskon
Detik-detik sunrise berhasil diabadikan dengan sekedarnya begitu juga si dia :D…(somehow, I just lost ur number).
Matahari mulai tinggi dan karena takut hitam kita segera turun…gila! turun gak kalah capeknya euy… Aduh lututku. Kemudian seiring bias mentari menyinari perjalanan kami turun, kami temukan masterpiece yang sangat bernilai tertoreh indah di bebatuan. Dalam hati aku bertanya siapakah maestro-nya ya? Ingin sekali kuajak mendaki bareng sambil bawa kain pel atau sekaleng thinner.
(*lapuran buat hendru)


Credits:
Arie, Aim, Adip, Andri, Anis, Amik, Arip Yulianto, Bambang bapake Angga, Baskoro, Cobain, Cerka, Didi Purwadi, Ester, Giri Prastowo, Heru, Ivant, Komang, Noviar M Sugandha, Pondal I Kadek, Ratna, Sabina, Sidharta I Ketut, Taufik, Tereska, Yanuar.
16 Responses for "Mendaki Gunung Agung"
Hurayyyyyy Horeeeeee YIppiiiiii nyampe juga di Puncak Gunung Agung … liat sunrise dan menikmati segala kuasa-Nya …
tengkiyuh all my pren ..next trip ???? kesono lagi kah ??? tujuhbelasan ?? *sambilnyetelkakiyangmasihgempor* hahahahahhaha
horeeeee… aku salah satu lelaki ganteng kan.??
hi.hi.hi..
pendaki palsu….hehehe…
[...] baca selengkapnya…. Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages. [...]
Waaaaa…
Vik… Galerynya jangan di posting dulu, Edit dulu baru posting…. Secara fotoku di puncak ga ada….
pengalaman yang memilukan
ntah dimana nemu yang namanya alergi turun turun badan bagian belakang penuh dengan bentolan gatel gatel yang kata pondal krayapan sejenis penyakit aneh…..gatel dan agak perih…hikz mpe sekarang masih sisanya…terpaksa deh senin malam kedokter dan meliburkan diri sehari lagi hikz…..
tapi agak aneh sih aku rasa pendakian kali ini
apalagi secara gak sengaja ketemu sama leluhur…..
hikz…..thanks God saya bisa lihat bayangan gunung agung mpe ujung pulau bali i love it
I love this trip dude!……….perasaan ada yg kurang neh… kurang yg namanya Hendrozzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz….
We invite You to join Our Team as:
* Network Staff
* IT Staff
* Marketing Staff
* Procurement Staff
* HR Staff
[...] by Arie 2. by Bali Outbound3. by Giri4. by Andri5. by Irfan Affandi6. by Hendra WS SHARETHIS.addEntry({ title: “Mendaki”, url: [...]
Crying … Next trip !!! *balas dendam mode-ON* Jalur Besakih .. Agustus, kita upacara 17 Agustus diatas gunung agung. Sorry ya dude, aku harus mendadak pulang.
Wuahhh akhirnya jadi juga mendaki Gunung AGung kembali…
ngeliat foto2nya jadi inget beberapa tahun kemaren pas aku juga ikut naek walopun ujung2nya PINGSAN…tapi menyenangkan walopun gak ampe puncak, Alhamdulillah jejak kaki pernah nginjak di Gn. Agung, sekalipun SEPATU jebol….tapi untung ada mas Rohman yang minjemi sandal. Hmmmm liat fotonya andri…….jadi saingan neeh ama foto di jaman dulu…he…he bagusan mana yo posene??
Huhhhhh yang jelas apapun ityu, Good Luck bwt kalian..semoga apapun kegiatan yang positif bisa berjalan dengan sukses.
Hikks…hiks….. jadi kangen BALI….pengen liat langit biroe…bintang-bintang dan bulan PUrnama, selama tinggal di Jkt, sama sekali blum pernah liat itu…kacian..ya….
blh mnta CP NYA?
kita tgl7 rencana mw naek lwt selat ne….
tlg krm info k 085643089880 y…
thx bgd..
ihh…baru juga gunung agung. aku udah sekali naik batur. eh, batur itu trmasuk gunung ato bukit ya??
wakakaakka batur itu gunung
tapi gunung wisata
yukkk naik gunung agung lagi
keren. kepengen nyoba tp yakin dah gak kuat, maklum dengkul manja, nafas versi 234.
Wow, handal, dan mantap
Leave a reply