Denpasar, Kompas - Masyarakat Bali yang tergabung dalam Kolaborasi Non Government Organization atau NGO Bali untuk keadilan iklim bersepakat melanjutkan kampanye konsep Nyepi sebagai aksi nyata pengurangan emisi gas rumah kaca kepada dunia internasional.
Untuk mempermudah pemahaman masyarakat internasional, diusulkan agar kata “Nyepi” diterjemahkan dengan kata “World Silent Day” meskipun hal itu tidak mengurangi esensi dari pesan yang ingin disampaikan.
Ida Pedanda Sri Begawan Dwija Nawa Sandi, salah satu tokoh spiritual Bali, menyatakan, harus dibedakan Nyepi yang selama ini sudah dilakukan masyarakat Bali dengan World Silent Day yang dikampanyekan.
“Kalau Nyepi dimaknai sebagai aspek spiritual agama Hindu, World Silent Day tidak menyinggung aspek spiritual, tetapi ekologi,” kata Begawan Dwija Nawa Sandi dalam diskusi akhir tahun Kolaborasi NGO Bali di Denpasar, akhir pekan lalu.
Secara teknis pun dua hal ini berbeda meski memiliki tujuan yang sama. Nyepi di Bali dilakukan dengan rangkaian kegiatan seperti catur brata penyepian (empat hal yang tidak boleh dilakukan), World Silent Day tidak akan persis seperti itu.
“Kalau pakai istilah-istilah yang hanya dimengerti oleh masyarakat Bali, kampanye itu akan susah dipahami dan dikhawatirkan akan mendapat tentangan dari kelompok masyarakat ataupun agama lain,” ujarnya.
Waktu itu film tentang Nyepi diputar dalam pembukaan konferensi. Sayang, menurut Hira Jhamtani, salah seorang aktivis dan juga penggagas ide kampanye konsep Nyepi ini, Pemerintah Indonesia terlambat untuk merespons ide pelaksanaan Nyepi ini sebagai usaha mengurangi emisi terkait isu perubahan iklim. Sampai saat ini belum ada sikap resmi Indonesia untuk mengadopsinya.
“Namun, meski tidak diadopsi oleh negara mana pun, asal ada 10 juta orang yang mendukung, kita bisa mendesak agar dibahas. Karena itu, perlu dukungan masif dari masyarakat atau satu negara,” kata Hira.
Aksi konkret
Ni Nyoman Sri Widhiyanti, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali, mengatakan, Nyepi di Bali secara nyata telah ikut mengurangi pembuangan emisi gas rumah kaca.
Jumlah sepeda motor di Bali diperkirakan mencapai satu juta unit. Jika diasumsikan satu unit sepeda motor mengonsumsi 4 liter bensin sehari, total bensin yang dikeluarkan 4 juta liter per hari bagi seluruh sepeda motor. Sementara itu, konsumsi bahan bakar avtur dari minimal 80 pesawat yang beroperasi di Bandara Ngurah Rai per hari mencapai 1.600 kiloliter.
“Penggunaan bahan bakar itu berkurang selama Nyepi,” ujar Sri Widhiyanti.
Dalam rangka menggalang dukungan itu telah dibuat website dengan alamat www.worldsilentday.org.
Arief Budiman, praktisi periklanan di Bali yang menggagas website itu, mengatakan, website ini pada dasarnya merupakan usaha besar untuk mewujudkan ide besar. Website ini sebagai bagian dari kampanye global internasionalisasi Nyepi.
Sumber : Kompas
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/31/humaniora/4113409.htm
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
2 Responses for "Konsep Nyepi Berlanjut | Aksi Nyata Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca"
PERTAMAAAX !!!
Saya setuju agar diadakan Nyepi untuk seluruh dunia.
Saya setuju agar negara modern memberikan uang kepada Indonesia, terutama saya.
*sambil tetap melototin tulisan ini*
Mana semuanyaaaa … pada kemana neh, ini aksi real, tunjukkan jika kalian peduli, dengan kasih komentar disini…
nnnngggg….. Keduaaxxx……(tumben)
kita2 yg tinggal di Bali khan udah hehehe…. cerita laen neh :
Tadi sempat berkomunikasi via phone dgn Dinas Kehutanan Kintamani ; Bapak Wayan Tileh. kami menyampaikan rencana utk mengadakan reboisasi kecil2an ala BOC pada awal Februari’08 di desa Subaya khususnya sekitar areal rmh mas ipung, utk itu kami mohon bantuan 50pcs bibit pohon Ampufu (kayu putih), dan permohonan kami diterimanya dengan senang hati, saat ini bibitnya masih dalam persemaian, mudah2an pada waktu yg telah direncanakan nanti bibitnya sudah cukup umur untuk ditanam.
Leave a reply